Small But Powerfull

Kemarin sore, 5 Desember 2012, pukul 4 sore, teman-teman TDA Kampus Jogja mengadakan kopdar skala kecil. Seperti biasa, kami mengundang teman-teman lewat sms. Tidak lewat social media maupun lewat grup TDA Kampus Jogja. Karena suasana agak gerimis dan teman-teman juga tidak sedikit yang ada jam kuliah dan kesibukan lainnya, kopdar kemarin sore dihadiri oleh 13 mahasiswa.

Kopdarnya berskala kecil tetapi berkesan. Small but powerfull.

Acara bertempat di English Cafe. Sebagai nara sumber adalah owner English Cafe. Sebetulnya, TDA Kampus Jogja sering mengadakan pertemuan di tempat ini. Tetapi belum sempat memperkenalkan siapa owner dari English Cafe ini. Namanya Mohammad Hamli. Masih semester 9 di kampus UIN Sunan Kalijaga. Sudah semester 9 dibilang masih? Hehe.


Banyak hal yang harus kita pelajari. Dan, belajar bisa dimana saja. Salah satunya belajar dari kopdar TDA Kampus Jogja.

“Banyak orang ingin punya usaha, tapi rata-rata mereka kendalanya adalah MODAL. Seberapa pentingkah modal ini?  Aku setuju modal itu adalah utama, walau bukan segalanya dalam bisnis. Namun apakah modal harus dari kantong kita sendiri? Aku pikir TIDAK. Bermimpi dan mau bertindak, itulah modal utamanya. Selanjutnya cari orang untuk memodali kita, jangan pake duit sendiri. Dua usahaku, cafe dan kursusan semuanya tanpa modal sepeserpun. Kok bisa? Itu yang slalu ditanyakan teman-temanku.” Mas hamli memulai percakapan kopdar sore itu.

“English Cafe berdiri sekitar 6 bulan yang lalu. Saya memulai usaha memakai uang orang lain. Bermodalkan proposal dua lembar, saya dan partner saya, mas Bento, menghubungi orang yang punya tempat kosong ini (baca;English Cafe). Karena menawarkan konsep yang berbeda, akhirnya beliau tertarik menjadi investor berupa tempat ini. Setelah itu saya juga mendapatkan modal dari teman sebesar 3 juta yang saya gunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan lainnya.” Mas Hamli memulai percakapannya.

“Kuncinya adalah relasi atau pertemanan. Kenali semua orang, jadikan mereka teman baik dan lihat hasilnya.  Yang belum punya kartu nama segera buat. Tau CT kan? Si anak singkong yang sekarang jadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Ya, dia mau membangun relasi dengan siapapun.” Lanjutnya.

Setelah mas Hamli menceritakan awal membangun usahanya, banyak teman-teman TDA kampus Jogja yang bertanya. Ada yang bertanya, bagaimana tips menyusun proposal supaya menarik?

“Proposal kalau bisa jangan terlalu banyak tulisannya. Kalau dua lembar bisa, segitu saja. Mayoritas investor suka yang simple tapi mudah dipahami pola bisnisnya. Terus, banyak-banyaklah menawarkan, jangan banyak-banyak meminta kepada investor. Dan dibalik semua itu, relasi, nama baik kita dan kepercayaan adalah nomor satu.” papar mas Hamli.

“Mas Hamli mendapatkan ide kursus dan cafe itu darimana? Bagaimana cara mendapatkan ide usaha?” Tanya salah satu peserta kopdar.

“Kalau saya biasanya mendapatkan ide itu saat habis sholat sama di saat saya mandi. Karena saya suka bahasa inggris, saya mencari ide kursusan yang berbeda. Ide membuat cafe sama kursus ini juga saat saya mandi. Kalau kita lagi mandi, biasanya imajinasi kita itu kemana-mana kan?”

Sontak, semua teman-teman TDA tertawa lepas.

“Saya pengin usaha tapi takut gagal. Gimana mas Hamli?” Tanya Dani, salah satu peserta kopdar.

“Ajak temanmu jadi partner usaha. Supaya kalau usahanya bangkrut, ada teman curhat lah. Saya juga sebelum fokus di English Cafe sudah beberapa kali gagal berbisnis. Saya juga pernah bekerja di See Institute dan di Dapur Sambal. Sebetulnya, banyak keuntungan kita memulai usaha saat masih mahasiswa daripada saat kita sudah jadi sarjana.”

Cuaca di luar masih gerimis. Beberapa tamu English Cafe masih sibuk ngobrol dengan teman-temannya. Ada juga yang sibuk online menikmati fasilitas Free WiFi nya English Cafe. Para peserta kopdar serius dengan paparan mas Hamli.

Suasana English Cafe
“Pertama, kalau kita gagal, malunya tidak sebesar rasa malu saat sudah sarjana. Masih mahasiswa, nothing to lose. Kedua, kalau kita sudah sarjana, nama kita di belakang koma itu lho, yang seringkali memberatkan. Mau buka usaha harus sesuai jurusan saat kuliah, karena rasa malu dan gengsi dari gelar sarjananya. Padahal, berbisnis itu bukan berdasarkan gelar kita, tapi berdasarkan passion kita. Ketiga, orangtua akan lebih bangga kalau kita sudah mandiri dan tidak meminta uang lagi ke mereka saat masih mahasiswa. Kalau kita mulai mandiri saat sudah wisuda, itu memang sudah seharusnya.” Teman-teman TDA Kampus Jogja tidak menghiraukan gerimis yang mulai menderas. Mereka sangat menikmati obrolan mas Hamli ini. Mereka begitu antusias. 

“Suka dan benci, pasti ada orang yang demikian pada kamu. 
Cuma life must go on. Lakukan yang nyaman dan baik buat kamu.” 
@MohHamli.


“Mas, saya kesulitan membagi waktu. Banyak tugas di kampus. Makanya bisnis jualan asesoris saya macet. Gimana cara membagi waktu antara usaha dengan kuliah mas?”

“Eh mas, begini-begini saya juga lagi sibuk menyusun skripsi lho. Bisnis kita itu tanggungjawab kita untuk kita sendiri, lulus kuliah itu tanggungjawab kita untuk orangtua kita” Mas Hamli langsung menanggapi pertanyaan tadi.

Beberapa teman tertawa renyah.

“Kalau saya begini membagi waktunya. Kalau pagi, saya fokus dengan skripsi saya. Pagi hari itu waktu yang enak menyusun skripsi. Untuk kalian anggap saja waktunya untuk kuliah. Kalau siang, waktunya saya kerja membangun bisnis. Kalau malam, saya tidak mau diganggu. Saya juga butuh memanjakan diri saya supaya tetap enjoy. Tapi kadang, kalau ada yang penting, malam-malam saya juga kerja atau ketemu orang. ” Banyak hal yang di sharingkan oleh seorang mas Hamli. 

Kopdar sore itu berskala kecil tetapi berkesan. Small but powerfull.

Setelah sesi tanya jawab selesai, giliran mbak Seviana yang mengambil alih acara kopdar sore itu. Sedikit bocoran, akhir  bulan Desember ini, TDA Kampus Jogja dan TDA Kampus pusat (UI Depok) RENCANANYA akan bersinergi mengadakan kopdar berskala besar plus meresmikan TDA Kampus Jogja oleh TDA Kampus pusat dengan menghadirkan beberapa pembicara lokal maupun dari luar kota. Namanya Gebyar Campuspreneur.

"Beberapa pembicara yang masuk list kami adalah presiden PT Maicih Inti Sinergi, Reza Nurhilman. Mohon do'a dan partisipasinya dari teman-teman yaa." Mbak Seviana mengakhiri pembicaraan.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari acara kopdar ini. Tetapi itu tidak ada artinya jikalau kita tidak ada tindakan setelah acara kemarin sore. Mas Hamli sudah memberi kita peta awal menuju kota Jakarta. tetapi kalau kita diam saja, tidak bergerak, mana mungkin kita akan sampai di Jakarta? 

Kalau aku hanya diam saja di kos dan berharap besok ada seseorang baik hati yang menawarkan modal untuk buka usaha gimana? 

Haha. ke laut aja loe!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hastag Gebyar Campuspreneur

Diskusi Entrepreneurship with Chairul Tanjung dan Jokowi

First Agenda